Thursday, June 16, 2011

Sinopsis Paradise Ranch Episode 12

PARADISE RANCH
EPISODE 12


Dong Joo manarik Da Ji kepelukannya agar Da Ji tidak tertabrak motor yang sedang melaju dengan cepat. Dong Joo pun langsung memarahi Da Ji karena kejadian itu, "Apakah kau tidak berfikir hah? Sampai kapan kau akan membiarkan orang-orang khawatir padamu? Bagaimana bisa kau seperti ini, sangat menyedihkan? Apakah kau harus memperlihatkan bahwa dirimu ini sedang patah hati? Jangan lagi berbicara padaku! Apakah kau pernah berfikir bahwa adikmu itu mengkhawatirkanmu yang tidak makan atau tidur dengan nyenyak?" Da Ji hanya bisa terdiam mendengar ucapan Dong Joo.



HP Da Ji berbunyi dan itu merupakan telfon dari Ayahnya. Da Ji terlihat ragu saat menjawab telfon itu, "Ya Ayah?" Ayah Da Ji berkata, "Da Eun bilang bahwa dia ingin tinggal bersamaku untuk beberapa hari ini, Apakah ada yang terjadi?" Da Ji terkejut mendengarnya, "Da Eun ada ditempatmu?" Dong Joo sama terkejutnya saat mendengar hal itu.



Ayah Da Ji selesai menelfon Da Ji dan dia menghampiri Da Eun yang sedang menunggunya di bawah pohon. Ayah Da Ji berkata, "Putriku ini jauh-jauh datang kemari hanya untuk menemui Ayahnya jadi aku akan memberikan makanan enak untukmu." Da Eun cemberut mendengarnya, "Apakah aku anak-anak? Membelikan makanan maka itu sudah cukup?" Ayah Da Ji melihat Da Eun dan bertanya, "Ah mana barang bawaanmu?" Da Eun terdiam kebingungan. Ayah Da Ji kembali berkata, "Kakakmu itu khawatir karena kau tiba-tiba menghilang. Dia tidak tau apa yang harus dia lakukan. Kau tau kan bahwa kau ini sangat berarti untuk Kakakmu itu? Mengapa kau tiba-tiba pergi hah?" Da Eun berkata lemah, "Huh Ayah kan tidak tau apa yang terjadi." Ayah Da Ji bertanya balik, "Apa yang Ayah tidak ketahui? Bukankah kau kemari karena Kakakmu memarahimu?" Da Eun menjawab, "Bukan karena itu!"

Ayah Da Ji berkata, "Demi keluarga ini maka Kakakmu menyerah pada sekolahnya. Jadi mengapa kau seperti ini pada Kakakmu? Jika kau ingin mengejar pesawat selanjutnya maka kau pergilah sekarang. Cepatlah telfon Kakakmu terlebih dahulu." Ayah Da Ji berjalan pergi dan Da Eun menghentikannya, "Ayah, apa yang bisa kita lakukan agar Unni bahagia? Dia bekerja dengan keras dan aku tidak bisa membantunya." Ayah Da Ji terlihat panik, "Sebenarnya apa yang terjadi?" Dengan cepat Da Eun menggelengkan kepala, "Tidak ada. Aku hanya sedih saja." Ayah Da Ji berkata, "Huh hanya karena Kakakmu memarahimu maka kau pergi dari rumah? Jangan melakukan hal itu lagi dan Kakakmu akan bahagia. Kakakmu sangat marah sekarang jadi belikanlah makanan saat kau pulang nanti. Ayo kita pergi."

Da Eun merangkul lengan Ayahnya dan berkata, "Ayah bisakah kau meminta agar Unni tidak marah padaku?" Ayah Da Ji merangkul Da Eun dan menjawab, "Putriku ini mengapa jadi begitu sensitif?



Da Ji, Dong Joo dan Jong Dae pun menunggu kepulangan Da Eun di Bandara. Da Eun keluar drai bandara dan Jong Dae segera menghampirinya, "Da Eun, apakah kau tau bahwa aku terus mencarimu? Hatiku hampir pedih." Da Eun balas berkata, "Mengapa kau begini? Berhentilah seperti ini!" Jong Dae bertanya, "Apakah kau begitu membenciku?" Da Eun menjawab, "Ya aku sangat sangat sangat membencimu!!" Jong Dae yang mendengar hal itu pun langsung pergi.



Da Eun berjalan takut ke arah Da Ji dan dia segera memberikan sebungkus makanan pada Da Ji, "Ayah membelikan ini untukmu." Da Ji menolak makanan itu dan memarahi Da Eun, "Siapa bilang bahwa aku sedang ingin makan? Kau tidak pergi sekolah dan mengepak barangmu lalu pergi begitu saja. Apa yang kau pikirkan hah?" Da Eun berjongkok untuk mengambil makanan yang terjatuh dan dia menatap Da Ji tajam. Da Ji berkata, "Setalah berbuat seperti ini kau masih menatap Kakakmu seperti itu hah? Apakah kau benar-benar ingin aku memberikanmu pelajaran hah?" Da Eun menjawab, "Aku seperti ini karena tidak mau bertemu denganmu yang tidak makan ataupun tidak tidur!" Dong Joo terdiam mendengar hal ini.

Da Ji berusaha menenangkan Da Eun, "Aku speerti itu hanya karena lelah..." Da Eun memotong ucapan Da Ji, "Bagaimana bisa kau mengatakannya begitu?! Kau sama seperti ini saat kau berpisah dengan Kakak Ipar(Dong Joo)! Untuk 2 bulan kau hanya berbaring di tempat tidur! Selain tidak makan ataupun tidur, kau hanya bisa menangis! Setelah kejadian itu seharusnya kau lebih memiliki semangat!" Dong Joo terkejut mendengarnya. Da Ji bertanya pada Da Eun, "Jadi kau tidak skeolah dan sulit dihubungi agar membuatku khawatir? Kakakmu ini lelah dan juga sedang patah hati. Kakak membutuhkan waktu. Untuk melupakan rasa sakit ini, kau benar-benar ingin menambah rasa sakit ini hah?" Da Ji pun mulai menangis.



Dong Joo bekerja di Restaurant dan dia memikirkan ucapan Da Eun di bandara tadi, "Kau sama seperti ini saat kau berpisah dengan Kakak Ipar(Dong Joo)! Untuk 2 bulan kau hanya berbaring di tempat tidur! Selain tidak makan ataupun tidur, kau hanya bisa menangis!"



Da Ji datang ke pohon yang biasa ia datangi bersama Yun Ho dan ia terkejut karena Yun Ho berada di situ juga. Yun Ho bertanya, "Apakah kau baik-baik saja?" Da Ji balas bertanya, "Apa yang kau lakukan disini pada malam hari ini?" Yun Ho hanya tersenyum, "Sudah malam. Aku antar kau pulang. Ayo." Yun Ho berjalan terlebih dahulu di depan Da Ji dan Da Ji bertanya, "Apakah hubungan kita benar-benar telah berakhir? Apakah tidak ada jalan agar kau kembali ke sisiku? Untuk beberapa hari ini aku tidak bisa berhenti memikirkanmu. Aku tidak bisa berhenti walaupun aku berusaha menghentikannya. Maaf karena aku mengatakannya padamu." Da Ji menangis dan Yun Ho sendiri kebingungan dengan apa yang harus ia perbuat.



Da Ji membereskan barang-barang yang dahulu pernah di berikan oleh Yun Ho padanya dan memasukannya ke dalam sebuah kotak.



Da Ji tidur di samping Da Eun dan dia mulai menangis. Da Eun yang belum tidur pun terkejut, "Unni.." Da Ji menjawab, "Biarkan aku menangis hanya untuk hari ini saja." Da Eun ikut menangis dan langsung memeluk Da Ji.



Yun Ho berjalan ke arah kamar Resortnya dan dia berhenti di depan pintu. Yun Ho terdiam dan dia pun menangis.



Pagi hari Dong Joo keluar rumah dan dia terkejut melihat Da Eun yang sedang membawa rumput untuk di berikan pada kuda. Dong Joo bertanya pada Da Eun, "Apakah kau mau membantu Kakakmu?" Da Eun menjawab, "Aku hanya bangun terlalu pagi." Dong Joo berkata, "Masuklah kedalam dan pergi sekolah. Sampai Kakakmu lebih baik maka aku akan membantunya." Da Ji tiba-tiba datang dari arah petrnakan, "Ah apakan kalian mau membantuku? Tapi aku sudah memberikan makan para kuda. Sebaiknya skearang kita masuk saja. Aku akan memasak Bulgogi untuk kalian." Dong Joo dan Da Eun sama-sama bingung melihat Da Ji yang sudah kembali seperti semula.



Da Ji makan dengan lahap, sementara Da Eun dan Dong Joo masih menatapnya kebingungan. Da Eun berkata, "Ini masih sangat pagi dan kita sudah makan Bulgogi?" Da Ji menjawab, "Agar bekerja lebih semangat maka kita harus memakan ini pada pagi hari. Dong Joo kau makanlah." DongJoo menjawab, "Tidak, terima kasih. Kau makanlah dengan banyak. Sepertinya kau akan mulai memasak sarapan lagi?" Da Ji mengangguk semangat, "Manusia perlu makan agar tetap hidup. Maaf karena pada saat itu aku membuat kalian tidak nyaman. Untuk meminta maaf maka makanlah ini." Da Ji membungkuskan dua daging untuk Da Eun dan Dong Joo namun mereka sama-sama masih bingung. Da Ji berkata, "Makan ini!" Keduanya pun akhirnya menerima daging yang diberikan Da Ji.

Da Ji kemudian bertanya pada Dong Joo, "Ah kapan pendaftarakan kompetisi pacuan kuda itu ditutup? Kita harus mengirimkan foto Paulist juga." Dong Joo menjawab, "Para pekerja sudah mengurnya. Mengapa kau menanyakannya?" Da Ji bertanya, "Aku belum di keluarkan kan?" Dong Joo tidak menjawab dan dia justru mengeluh, "Ya! Kenapa ini pedas? Apakah kau menambahkan cabe?" Da Ji memberikan Dong Joo minum, "Benarkah? Yang aku tidak terasa pedas." Da Eun yang melihat Da Ji dan Dong Joo hanya terdiam.



Ibu Dong Joo terbangun dan saat dia akan keluar kamar, dia terkejut melihat Ayah Dong Joo yang tertidur di lantai karena mabuk.



Kakek sedang minum teh dan dia memikirkan ucapan Ibu Dong Joo. Ibu Dong Joo menghampiri Kake untuk mengajaknya sarapan namun Kakek menahannya, "Apa yang sebaiknya kita lakukan? Jika dia(Dong Joo) tidak memiliki perasaan pada Da Ji, tinggal di rumahnya tidak akan terjadi, bukan?" Ibu Dong Joo menjawab, "Dong Joo menghabiskan bertahun-tahun untuk melupakan Da Ji dan dia memiliki seseorang yang ia suka sekarang ini. Aku hanya tidak senang jika mereka bersama sekarang ini." Kakek mengangguk mengerti mendengarnya.



Mil Hye melihat Yun Ho sedang meminum air lemon dan dia sedikit bingung karena setahu dia Yun Ho tidak menyukai air lemon. Mil Hye pun kemudian menyapa Yun Ho, "Ini masih pagi, tetapi kau sudah bangun. Dan kemarin kau pulang larut malam. Gurumu datang dan menunggumu hingga larut karena dia ingin mengajakmu minum bersama." Yun Ho menjawab, "Ya kemarin ada sesuatu yang datang. Ah tiket pameran Guru ini kau yang memberikannya padaku bukan?" Mil Hye mengangguk, "Kau terlalu baik. Itu membuatku tidak nyaman. Terima kasih." Yun Ho tersenyum, "Aku akan pergi ke kamar mandi." Setelah kepergian Yun Ho, Mil Hye menatap air lemon itu dan berkomentar, "Dia masih meminum air lemon itu..."



Da Ji sedang membawa alat-alat perlengkapan kuda dan dia bertemu dengan Jin Young. Jin Young ingin membantu Da Ji namun Da Ji menolaknya, "Tidak perlu. Ini adalah pekerjaanku. Dan ini sama sekali tidak berat." Jin Young kemudian berkata, "Akan sangat aneh jika kita terlihat dekat satu sama lain. Sampai jumpa nanti." Da Ji kebingungan dengan maksud ucapan Jin Young.



Da Ji masuk ke dalam ruangan di Resort dan dia melihat Jin Young sedang meminta seorang pekerja untuk memasangkan lampu. Da Ji menatap penampilan Jin Young dan dia merasa malu karena dia tidak secantik Jin Young. Tiba-tiba saja tangga yang di naiki pekerja itu terjatuh dan hampir menimpa seorang rekan Jin Young, namun Da Ji dengan segea mendorong rekan Jin Young itu sehingga yang terluka pun Da Ji.



Yun Ho masuk kedalam gedung rapat dan tersenyum melihat poster Festival karena dia mengingat ucapan Da Ji yang berharap dia bisa ikut serta dalam Festival tersebut. Dong Joo masuk kedalam ruangan juga dan dia terlihat tidak begitu senang melihat Yun Ho.

Tiba-tiba saja Asisten Lee masuk kedalam ruangan dengan tergesa-gesa, "Direktur Han, ada masalah besar! Ada kecelakaan di ruangan VIP dan itu membuat Lee Da Ji terluka saat mencoba menyelamatkan pekerja yang lain." Yun Ho yang mendengar hal itu pun ingin pergi namun Dong Joo segera menahannya, "Aku yang akan pergi. Seo Yun Ho tolong pimpin rapat ini." Dong Joo pun kemudian pergi meninggalkan ruang rapat.



Dong Joo berlari ke rumah sakit dan dia mendatangi meja informasi untuk menanyakan ruang kamar Da Ji. Dong Joo segera lari menuju kamar Da Ji dan dia bahkan tidak menyadari bahwa tadi dia berpapasan dengan Jin Young.



Dong Joo membuka pintu kamar Da Ji dan yang dia lihat justru Da Ji sedang makan dengan lahap di temani oleh Da Eun. Dong Joo dengan segera memarahi Da Ji, "Kau berharap mati hah? Kau pikir kau ini siapa hingga berusaha menyelamatkan orang lain?" Da Ji menjawab, "Jika aku tidak menyelamatkannya maka wanita itu mungkin terluka." Dong Joo kembali marah, "Dasar bodoh! Kaulah yang kini terluka!" Dong Joo kemudian menatap Da Eun yang membelikan makanan untuk Da Ji, "Apakah makanan yang kau beli ini sudah dapat persetujuan dari dokter hah?" Da Eun menjawab, "Aku membelinya karena Unni yang menginginkannya." Da Ji berkata, "Tidak masalah. Lagipula aku tidak sedang di operasi. Lukaku ini tidak begitu serius." Dong Joo tetap marah, "Kau masih bisa mengatakan lukamu tidak serius padahal kau mengenakan penyangga leher?" Da Eun tersenyum karena ternyata Dong Joo peduli pada Da Ji.



Jin Young datang ke ruangan Da Ji dan membuat Da Ji sedikit tidak nyaman. Jin Young bertanya, "Apakah kau sudah merasa lebih baik? Kau sebaiknay beristirahatlah." Da Ji menjawab, "Tidak eprlu. AKu tidak perlu waktu untu istirahat. Aku dalam keadaan sehat." Dong Joo kesal mendengarnya, "Kita tidak tau bahwa kau baik-baik saja atau tidak!!" Suasana di ruangan pun terlihat canggung karena sikap Dong Joo yang terlalu perhatian pada Da Ji.



Da Eun menatap ke jendela dan melihat Dong Joo yang mengantar Jin Young. Kemudian Da Eun bertanya pada Da Ji, "Apakah dia harus mengantar wanita itu hingga tempat parkir? Unni kau benar-benar hebat dalam berakting lemah. Kakak ipar pasti merasa sangat khawatir." Da Ji kesal mendengarnya, "Siapa hah Kakak iparmu itu?" Da Eun bertanya, "Lalu aku harus memanggilnya apa? Memanggilnya Kakak Ipar atau memanggilnya Oppa? Oppa terdengar sangat aneh. Llau apakah aku harus memanggilnya Dong Joo-ssi(Formal)." Da Ji menjawab, "Apapun selama itu bukan Kakak Ipar!"

Tiba-tiba Da Eun mendekati Da Ji, "Ngomong-ngomong tentang kakak ipar, bukankah dia terlihat sedikit aneh? Tadi pagi dia terlihat aneh dan lagi dia juga tadi terlihat mengkhawatirkan Unni di depan kekasihnya. Wow situasi ini benar-benar luar biasa." Da Ji berkomentar, "Dia seperti ini karena aku terluka." Da Eun menggelengkan kepala, "Tidak. Ini adalah waktu yang tepat untuk mendapatkan dia kembali!" Da Ji ingin memarahi Da Eun namun leherny terasa sakit sehingga dia berkata, "Diamlah! Jangan membuatku berbicara banyak!"



Yun Ho terlihat menunggu di depan Resort. Asisten Baek datang dan Yun Ho segera menghampirinya. Asisten Baek berkata, "Lengan kirinya harus di perban dan selain itu tidak ada luka yang serius." Yun Ho terlihat cukup lega mendengarnya.



Ibu Dong Joo membawakan minum untuk Ayah Dong Joo yang tertidur, "Kau cepatlah bangun! Apakah kau tidak akan bekerja hah hari ini? Berapa gelas bir yang kau minum hah?" Ayah Dong Joo menjawab, "Aku hanya minum jika sedang ingin. Walaupun aku tidak mau, aku harus tetap minum saat sedang melakukan bisnis." Ayah Dong Joo menatap ruangan kamarnya dan dia baru sadar bahwa dia ada di kamarnya sendiri, "Mengapa aku ada disini?" Ibu Dong Joo balas bertanya, "Mengapa kau bertanya seperti itu hah? Kau mabuk dan kau yang masuk ke kamar ini." Ayah Dong Joo bertanya, "Apakah kita tidur bersama?" Ibu Dong Joo justru memarahinya dan pergi keluar kamar. Ayah Dong Joo masih terus berfikir, "Apakah kita hanya tertidur saja?"



Da Ji berjalan keluar rumah sakit bersama dengan Dong Joo. Da Ji berkata, "Pasta gigi... tisu toilet... Ah dan coklat di dalam kulkas. Bawakan itu untukku." Dong Joo menatap kesal, "Kau bisa membelinya disini. Kau hanya di rawat selama 1 minggu tapi meminta begtu banyak hal." Da Ji berkomentar, "Untuk apa membeli jika di rumah ada hah? Ini adalah pertama kalinya aku mausk rumah sakit. Aku tidak pernah menyangka bahwa aku akan mengenakan pakaian rumah sakit seperti ini. Aku rasa ini akan menjadi pengalaman yang menarik." Dong Joo geleng-geleng kepala melihat sikap Da Ji, "Kau sepertinya sangat menikmati hal ini. Kau masuklah kedalam, disini berangin."

Da Ji tersenyum kemudian bertanya pada Dong Joo, "Apakah kau begitu mengkhawatirkan aku? Kau terlihat sangat panik tadi." Dong Joo kebingungan, "Tentu saja aku panik karena kejadiannya terjadi di Resortku dan aku harus bertanggung jawab." Da Ji bertanya, "Apakah aku tidak mendapatkan uang kompensasi? Ini kan kecelakaan saat bekerja." Da Ji kembali geleng-geleng kepala dan berjalan menuju mobilnya. Da Ji segera mengejarnya, "Ya direktur! Apa tanggung jawabmu?" Dong Joo bertanya, "Apa yang kau ingin makan? Katakan padaku dan aku akan membelikannya untukmu." Da Ji menjawab, "Banyak... Ayam, Babi, sup ayam, juga ice cream dan strawberries. Ya aku ingin makan strawberries . Kemudian Jajangmyun dan Champong. Ah Pizza juga!" Dong Joo segera menutup telinganya dan itu membuat Da Ji semakin berterik padanya, "Kau pikir kau tidak bisa mendengarkan ucapanku hah? Aku ingin Pizza!! Soondae!! Kau harus membelikannya untukku!"



Mereka berdua tidak sadar bahwa sejak tadi Kakek melihat hal itu dari dalam mobil. Kakek berkata pada Asisten Lee, "Han Dong Joo tidak tau bahwa aku datang kan?" Asisten Lee menjawab, "Mulai dari Berkarung-karung gandum, dan kejaidan ini, semuanya terjadi karena Lee Da Ji." Kakek bertanya, "Menolong para Ahjumma nelayan dan mengganti lokasi pesta pembukaan itu juga?" Asisten Lee menjawab, "Ya. Sesungguhnya aku sangat berterima kasih padanya karena membantu surat persetujuan masyarakat. Namun karena Lee Da Ji juga maka DIrektur Han Dong Joo sering mendapatkan marah dari Direktur(Ayah Dong Joo.)"



Jin Young bertemu dengan rekan kerjanya dan membahas beberapa hal. Rekan kerja Jin Young bertanya, "Kau bertengkar dengan Dong Joo? Sudah beberapa hari kau tidak bertemu dengannya, kan?" Jin Young kebingungan, "Apakah kita bertengkar? Dia belum menelfonku beberapa hari ini dan sepertinya memang bertengkar." Rekan Jin Young berkomentar, "Kalau begitu kau telfonlah dia terlebih dhaulu." Jin Young menjawab, "Aku bisa menebak apa yang sedang dia lakukan sekarang ini. Aku takut jika mengetahui ternyata hal itu benar jadi aku sebaiknya tidak perlu menelfonnya."



Karena lengan Da Ji terluka maka Dong Joo pun membantu Da Ji untuk memandikan Paulist. Dong Joo sengaja memakai topeng kuda dan itu membuat Dong Joo kesal, "Bisakah kau melepasan itu?"Da Ji tidak melepaskan topeng itu dan dia justru menyuruh Dong Joo agar menyikat Paulist lebih bersih.

HP Dong Joo berbunyi dan dia segera mengangkatnya, "Mengapa kau menelfonku lagi? Hari ini aku tidak akan kerja." Asiten Lee berkata, "Mengapa kau tidak mengangkat telfon Direktur(Ayah Dong Joo) dia sedang sangat marah saat ini." Dong Joo berkata, "Kau katakan saja padanya bawa kita dalam sebuah rapat penting." Dong Joo menutup HPnya dan kembali memandikan Paulist. Da Ji yang mendengar percakapan itu pun berkata, "Jika kau ada urusan yang penting maka pergilah. Aku bisa mengurus hal ini." Dong Joo menjawab, "Urusan penting apa hah hingga aku harus meninggalkan hal ini?" Da Ji tersenyum, "Sebelumnya kau bilang tidak ingin dekat-dekat dengan kuda namun sekarang kau memberikan kuda makan dan juga memandikannya. Itu terasa menyenangkan bukan?" Dong Joo bergumam kesal, "Lihatlah hingga kau melepaskan perban itu!"

Da Ji berkata, "Sepertinya menjadi sakit ini bukanlah hal yang buruk. Perban ini akan di lepas minggu depan, apakah aku harus terus memakainnya beberapa hari lagi?" Da Ji menggaruk kepalanya dan Dong Joo bertanya, "Kapan Kau terakhir keramas hah?" Da Ji menjawab, "3hari yang lalu."



Akhirnya Dong Joo pun membantu mencuci rambut Da Ji. Dan saat mengeringkan rambutnya Da Ji, Dong Joo tersenyum sendiri. Da Ji memejamkan matanya agar air tidak masuk ke matanya dan itu justru membuat Dong Joo jadi semakin bingung akan perasaannya. Akhirnya Dong Joo meminta agar Da Ji sendiri saja yang mengeringkan rambut.



Ahjumma datang dan tersenyum senang melihat Da Ji dan Dong Joo yang terlihat dekat, "Kalian berdua terlihat sangat dekat sekarang ini." Da Ji dan Dong Joo terkejut mendengar ucapan Ahjumma. Ahjumma berkata kembali, "Aku tau bahwa kalian berdua akan kembali mengingat masa yang dahulu." Da Ji dengan cepat berkata, "Ahjumma ini tidak seperti yang kau pikirkan!!"



Dong Joo baru keluar dari kamar mandi dan dia bingung saat melihat Da Ji baru keluar drai kamarnya, "Mengapa kau keluar dari kamarku?" Da Ji menjawab, "Ah aku berniat menukar baju yang dahulu aku berikan padamu. Bukankah kau bilang tidak suka warna hitam?" Dong Joo bertanya, "Bagaimana bisa kau mengembalikannya setelah sudah lama hah?" Da Ji menjawab, "Tidak masalah. Lagi pula ini belum di pakai kan? Kau hanya mengantungkannya saja. Baiklah aku akan pergi..." Dong Joo menjawab, "Itu sudah pernah di pakai. Aku memakainya pada saat hari kau memberikannya padaku." Da Ji tersenyum mendengarnya.



Da Eun datang ke Resort untuk melihat Asisten Baek. Da Eun berkomentar, "Huh mengapa dia harus menjadi sekertaris dari Yun Ho yang buruk itu?" Da Eun memegang kameranya dan memotret Asisten Baek diam-diam. Asisten Bak sadar ada yang memotretnya dan dengan segera Da Eun bersembunyi. Pada saat Da Eun kembali melihat tempat dimana sebelumnya ada Asisten Baek itu ternyata Asisten Baek sudah tidak ada. Da Eun pun kecewa melihatnya. namun kemudian Da Eun dikejutkan dengan kehadiran Asisten Baek di depannya.

Asisten Baek berkata, "Sampai kapan kau akan diam disini? Bukankah kau murid SMA? Janganlah seperti ini, murid." Da Eun berkata, "Namaku bukan murid. Aku Lee Da Eun! Lee-Da-Eun! Aku hanya ingin melihatmu sebentar apakah itu tidak boleh? Aku benar-benar menyukaimu. Walaupun kau melarangku, aku akan tetap melakukannya!"



Mil Hye berada di kamar Yun Ho untuk membuka laptop mencari info resep makanan. Sambil mencari resep, Mil ye pun menelfon Yun Ho. Yun Ho terkejut saat mendengar Mil Hye akan memasak, "Kau akan membuat makanan?" Mil Hye menjawab, "Mendengar dari suaramu kau sepertinya merendahkan aku. Tunggu dan lihat saja. Aku akan memenuhi meja makan dengan makanan yang kau suka." Yun Ho tertawa, "Baiklah sampai jumpa nanti." Mil Hye mematikan telfonnya dan tersenyum.



Mil Hye mencari kertas untuk mencatat resep dan yang dia temukan adalah buku sketsa milik Yun Ho. Mil Hye membuka buku sketsa itu dan dia terkejut karena isi buku sketsa itu dipenuhi gambar wajah Da Ji.



Da Ji datang membantu bersih-bersih di Restaurant dan dengan segera Dong Joo membantunya. Da Ji melihat pakaian Dong Joo dan ternyata itu adalah baju yang dia belikan, "Wow ini sangat cocok untukmu." Dong Joo bertanya, "Mengapa kau datang kemari? Jangan datang kemari sebelum lenganmu sembuh." Da Ji menjawab, "Jika aku tidak bisa mengantarkan makanan maka membersihkan meja aku bisa." Ahjumma berkomentar, "Biarkan Dong Joo yang mengerjakannya karena dia sangat mengkhawatirkanmu itu sebabnya dia tidak bisa pergi dari sisimu." Dong Joo berkata pada Ahjumma, "Aku tidak ingin mendengar hal itu kembali. Aku membantu Da Ji hingga dia bisa bekerja kembali."

Ahjushi kemudian berkata, "Nanti bantu aku ke ruang fermentasi bir." Ahjumma terkejut mendengarnya, "Biasanya kau tidak membiarkan orang lain masuk kedalam ruang fermentasi. Ada apa denganmu hari ini?" Ahjushi sendiri bingung menjawabnya.



Mil Hye menyajikan makanan untuk Yun Ho dan Yun Ho bilang bahwa makanan itu tidak buruk rasanya, "Ini sudah lebih dari jam 10 malam dan Supermodel Mil Hye memulai makan malamnya. Tidak, sekarang kau adalah seorang designer." Mil Hye hanya terdiam saja menanggapi ucapan Yun Ho. Yun Ho berkata, "Kau tidak perlu memaksakan dirimu untuk makan." Mil Hye menjawab, "Bukankah kau bilang tidak suka makan sendirian? Kau berusaha keras saat disisiku jadi aku juga harus menyesuaikannya bukan?" Yun Ho kemudian bertanya, "Apakah kau ingin pergi jalan-jalan?" Mil Hye mengartikan lain pertanyaan itu, "Apakah kau tidak nyaman saat aku berada disisimu?" Yun Ho menjelaskan maksudnya, "Aku hanya khawatir jika kau merasa bosan saja."

Mil Hye kemudian bertanya, "Kapan kita akan tidur bersama? Maaf. Tidak seharusnya aku berkata begitu." Yun Ho menjawab, "Berikan aku waktu lebih." Mil Hye berkomentar, "Aku rasa kau seperti ini terlihat menyedihkan." Yun Ho berkata, "Gadis itu tidak mudah di temukan. Aku tidak memaksakan diriku untuk memulai kehiduapn baru bersamamu. Tapi, saat aku memutuskan untuk ada disisimu, itu bukan berarti perasaanku padanya hilang begitu saja. Maafkan aku dan berikanlah lebih banyak waktu."



Da Ji mengambi segelas bir dan gelas bir itu segera di rebut oleh Dong Joo. Da Ji berkata pada Dong Joo, “Aku tidak bis atidur makanya aku ingin minum hanya segelas saja.” Dong Joo bertanya, “Apa sebegitu sulitnya? Jika kau tidak minum bir, maka kau tidak akan bisa tidur?” Da Ji hanya tersenyum bingung. Dong Joo mengembalikan gelas bir itu pada Da Ji dan berkata, “Kau hanya di perbolehkan minum satu gelas saja.” Da Ji pun segera menerima segelas bir itu dengan senang.

Dong Joo menarik sebuah kursi dan mendudukinya, Da Ji pun ikut duduk di kursi yang ada di samping Dong Joo. Da Ji kemudian memulai pembicaraan diantara mereka, "Ini semakin membaik setiap harinya. Entah itu cinta atau berpisah... Tidak peduli seberapa kerasnya aku mencoba, aku tidak akan pernah terbebas. Hatiku terasa sakit dan aku tidak pernah tau bagaimana kedepannya..." Dong Joo yang mendengar kata-kata Da Ji pun berkomentar, "Tidak peduli apakah kau memiliki perasaan pada seorang lelaki atau tidak. Tapi didepan pria yang pernah kau nikahi, apakah kau bisa membicarakan tentang cinta dengan semudah itu hah? Kau ini menyedihkan!" Da Ji tertawa ragu, "Kau benar. Mengapa aku bisa membicarakan hal itu dengan begitu santainya ya? Mungkin kah karena kau bisa membuat orang di sekitarmu merasa nyaman? Terima kasih... Untuk datang kemari dan membantuku. Aku mengatakan ini bukan karena omelanmu, tapi karena kau ada di sisiku maka mood-ku pun kembali dan aku menuju jalan yang benar." Da Ji tersenyum menatap Dong Joo dan Dong Joo bertanya, "Apa kau sedang memujiku hah?"

Da Ji menatap langit-langit Restaurant dan berkata, "Bagaimanapun juga... Apakah kau pikir bahwa kita ini benar-benar sangat lucu? Setelah kita menikah, kita tidak mendapatkan rasa cocok sama sekali. Setiap harinya kita hanya bisa berdebat." Dong Joo berkata, "Kau benar. Dan terima kasih karena kau telah banyak membantuku. Mendapatkan pengakuan dari orang lain itu membiatku berfikir bahwa aku bisa melakukan banyak hal dengan baik." Da Ji tersenyum mendengarnya, "Dan kita juga sangat beruntung. Pertemuan kita kembali ini tidak buruk. Mengapa kita selalu bertengkar dahulu? Jika saja kita lebih mengerti dan saling menatap dunia maka..." Da Ji menghentikan kata-katanya karena dia sadar bahwa dia telah membicarakan masa lalu mereka berdua. Da Ji kemudian berkata, "Aku pasti sudah mabuk hingga berbicara hal seperti tadi..." Dong Joo terdiam sesaat dan berkomentar, "Jika seperti itu maka kita tidak akan berpisah." Da Ji tertegun mendengar kata-kata Dong Joo tersebut.



Terdengar suara pintu restaurant yang terbuka dan dengan cepat Da Ji menarik Dong Joo untuk bersembunyi, "Ahjushi ada disini. Cepat bersembunyi!!" Da Ji dan Dong Joo pun pada akhirnya bersembunyi di balik tempat penyimpanan bir. Ahjushi masuk kedalam restaurant dan dia terlihat kebingungan, "Siapa disana?" Ahjushi melihat ke bawah kolong tempat penyimpanan bir dan dia melihat ada kaki Da Ji dan Dong Joo, Ahjushi pun kemudian berkata, "Sepertinya hanya tikus. Lampunya harusnya mati, apakah mungkin aku lupa mematikan lampu?" Ahjushi mematikan lampu Restaurant dan kemudian pergi.

Da Ji menjauh dari tubuh Dong Joo karena Ahjushi sudah pergi dan mereka tidak perlu bersembunyi kembali. Da Ji berkata, "Da Eun pasti panik mencari kita. Ayo pulang." Dong Joo balas berkata, "Kau duluan saja. Aku akan mengurus disini dahulu." Da Ji mengerti dan dia pergi duluan dari Restaurant. Setelah kepergian Da Ji itu, Dong Joo bernafas lega.



Da Ji keluar dari restaurant dengan terburu-buru sambil terus menggerutu, "Mengapa hatiku berdetak dengan sangat cepat??" Langkah Da Ji yang cepat itu seketika berhenti karena dia melihat Yun Ho berada di depan Restaurant. Da Ji langsung tersenyum saat melihat Yun Ho, Yun Ho pun kemudian berjalan mendekati Da Ji. Da Ji yang memakai perban di tangan pun menunjukannya pada Yun Ho, "Lenganku di perban." Yun Ho menatap lengan Da Ji dan berkomentar, "Kau beruntung..."



Tangan Yun Ho ingin menyentuh wajah Da Ji namun hal itu tidak terjadi karena Dong Joo keluar dari Restaurant dan segera berdiri di samping Da Ji. Dong Joo menatap Yun Ho tajam dan bertanya, "Apa yang kau lakukan disini?" Dong Joo kemudian berkata pada Da Ji, "Kau masuklah kedalam!" Da Ji ingin mengatakan sesuatu pada Dong Joo namun yang Da Ji dapat justru bentakan dari Dong Joo, "Apa kau tidak mendengarku? Masuklah kedalam!" Da Ji terdiam mendengar bentakan Dong Joo. Dong Joo kembali menatap tajam pada Yun Ho, "Sudah cukup lelucon ini! Apakah kau pikir wanita ini dengan mudah di perdaya? Aku sudah memperingatkan kau sebelumnya, Jangan pernah berfikir mengenai dia lagi! Jika kau tetap seperti ini, maka jangan salahkan aku jika aku bertindak kasar."

Dong Joo menarik lengan Da Ji untuk pergi namun langkah Dong Joo segera terhenti karena dia melihat ada Jin Young di depan Restaurant juga. Dong Joo pun dengan cepat melepaskan tangan Da Ji. Jin Young tersenyum pada Yun Ho, "Oppa, sudah lama tidak bertemu denganmu." Yun Ho menjawab, "Kau benar." Yun Ho kemudian bertanya pada Da Ji, "Kau mau minum segelas teh? Itu tidak apa-apa kan?" Da Ji menatap Dong Joo dan kemudian menjawab pertanyaan Yun Ho, "Ya baiklah." Da Ji berjalan ke sisi Yun Ho dan meninggalkan Dong Joo. Sementara itu Dong Joo dan Jin Young hanya saling terdiam.



Dong Joo mengantar Jin Young kembali ke Resort dan mereka tidak saling berbicara. Pada akhirnya Jin Young lah yang pertama bertanya pada Dong Joo, "Sudah beberapa hari kau tidak menghubungiku. Apakah kau begitu sibuk?" Dong Joo diam saja tidak menjawab pertanyaan Jin Young. Jin Young berkata, "Kebiasaanmu ini sangat tidak baik. Apakah tidak ada yang ingin kau katakan?" Dong Joo pun akhirnya mulai membuka mulut, "Aku sangat marah saat melihat dia dipermainkan seperti itu." Jin Young berkomentar, "Walaupun aku mengerti apa yang kau maksud, tapi aku merasa itu bukan hal yang baik. Apakah kau begitu khawatirnya pada Da Ji? Apakah kau pelindungnya hah? Walaupun ini karena penyesalan atau rasa kasihan, haruskah kau menjaganya? Aku tidak menyukai itu Dong Joo. Aku bukanlah wanita yang berbesar hati menerima hal itu. Bisakah kamu pindah dari rumahnya? Apakah kamu yakin bahwa kamu tinggal disana karena tidak ada pilihan lain?" Dong Joo terdiam tidak bisa menjawab satupun pertanyaan dari Jin Young.

Jin Young menatap kecewa pada Dong Joo dan kemudian dia pun melangkahkan kakinya pergi dari hadapan Dong Joo. Sementara Dong Joo hanya bisa melihat punggung Jin Young yang semakin menjauh.



Da Ji pun pergi minum teh bersama dengan Yun Ho. Da Ji kemudian membahas mengenai kejadian tadi di depan Restaurant saat bertemu dengan Jin Young, "Situasi sebelumnya sangat aneh." Yun Ho tersenyum mendengarnya, "Jika ada dalam situasi seperti itu maka kau harus berlari. Apakah lenganmu tidak apa-apa?" Da Ji tersenyum, "Ya tidak apa-apa. Da Eun membantu merapihkan kamar saat aku membersihkan pakaian. Dan karena aku terluka maka Dong Joo membantuku memberikan makanan pada kuda. Para anggota keluarga sangat membantuku. Ini membuatku merasa seperti tuan putri." Yun Ho hanya tersenyum mendengarnya, "Hm apakah pihak rumah sakit memberitahukan padamu bahwa kau tidak boleh minum?" Da Ji terkejut mendengarnya, "Apakah kau bisa mencium bau alkoloh? Aku tadi tidak minum banyak kok." Yun Ho kembali tersenyum, "Kau terlihat baik-baik saja, membuatku lega." Da Ji berkata, "Aku juga. Melihat senyumanmu, aku sangat menyukainya. Mulai sekarang, tersenyumlah seperti itu saat kita bersama. Aku melihatmu tersenyum itu sebelum kau pergi, ya kan? Untuk masa bahagia yang kita lalui... aku berharap kita dapat saling berbicara ddengan nyaman. Seperti seorang teman."



Da Ji pulang ke rumah dan dia melihat Dong Joo sudah menunggunya. Dong Joo pun langsung memarahi Da Ji, "Apakah kau tetap belum sadar juga? Mengapa kau tadi mengikutinya?" Da Ji kesal di marahi oleh Dong Joo makanya dia balas memarahi Dong Joo, "Apakah aku ini tipe orang yang mudah ditindas hah? Mudah di jahili oleh orang lain?" Dong Joo terdiam mendengar pertanyaan Da Ji itu, "Aku tidak bermaksud begitu..." Da Ji kemudian berkata, "Jika aku pergi bersamanya, bukankah itu juga bagus untukmu?" Dong Joo kebingungan mendengarnya, "Apa maksudmu?" Da Ji menjawab, "Aku hanya ingin memberikan waktu padamu dan Jin Young agar berbicara berdua dan tidak akan ada salah paham." Dong Joo kembali membentak, "Apakah kau masih waras?" Da Ji ikut membentak, "Lalu apa yang harus aku lakukan? Aku tidak ingin membuat kau terlihat seperti kekasih yang buruk dihadapan Jin Young. Tadi kau speerti yang tidak tau harus melakukan apapun. Dan aku yakin tadi Jin Young pasti sangat marah. Lalu apa yang kau ingin aku lakukan? Dan lagi... Aku mengikuti Yun Ho karena aku takut jika aku tetap disana maka akan ada suasana yang aneh." Dong Joo berkomentar, "Aku tidak bisa mengerti apapun sekarang ini."

Dong Joo pergi begitu saja meninggalkan Da Ji yang kebingungan. Da Ji berusaha bertanya kepada Dong Joo, "Kemana kau akan pergi?" Namun Dong Joo tidak menjawabnya sama sekali.



Dong Joo pergi keluar dari rumah Da Ji dan dia hanya terduduk diam di dalam mobilnya.



Pagi hari Jin Young berjalan keliling resort untuk olahraga dan saat melewati tempat parkir, Jin Young melihat ada mobil Dong Joo yang terparkir dan terlihat juga Dong Joo yang tertidur di dalam mobil.



Dong Joo sudah terbangun dan kini dia berada di kamar resortnya Jin Young. Jin Young tersenyum pada Dong Joo, "Dimana kau berencana tinggal sekarang ini? Kau tidak mungkin tidur di dalam mobilmu setiap hari kan?" Dong Joo menjawab pertanyaan Jin Young ragu-ragu, "Aku belum pindah sekarang... Aku harus menunggu surat persetujuan masyarakat dan ini bisa menyelamatkan peternakan Da Ji. Dia hanya memiliki peternakan itu saja dan dia beserta keluarganya telah bertahun-tahun merawat peternakan itu. Karena resort ini maka dia bisa saja kehilangan peternakan itu. Aku ingin membantu dia dalam masalah ini." Jin Young berkomentar, "Aku akan menunggu satu bulan lagi. Setelah itu... aku tidak menyukai hal ini."



Dong Joo masuk kedalam ruangannya dan terkejut melihat Da Ji duduk di kursinya, "Apa yang kau lakukan disini?" Da Ji menatap Dong Joo dan berkata, “Kau sudah datang Direktur?Aku datang kemari membawakan pakaian ganti untukmu.” Dong Joo berkata, “Apakah aku memintamu untuk membawanya untukku?” Da Ji menatap Dong Joo dengan kesal, “Kau meninggalkan rumah tanpa mengganti baju. Jika kau berani lagi keluar malam begitu maka aku akan mengusirmu!” DaJi memberikan sekantong pakaian dan memberikannya pada Dong Joo.

Kemudian Da Ji membawa barang-barangnya dan berjalan pergi meninggalkan ruangan Dong Joo. Sebelum Da Ji keluar dari ruangan Dong Joo, Dong Joo bertanya padanya, “Kau mau kemana? Kita harus menghadiri rapat mengenai pertandingan kuda.” Da Ji menjawab, “Iya aku tau. Aku akan kesana.”



Da Ji pergi ke ruang rapat dan menyiapkan rapat yang akan diadakan. Dan Da Ji dibantu menyiapkan semua itu oleh Yun Ho. Yun Ho mengulurkan tangan kanannya untuk berjabat tangan dengan Da Ji namun karena tangan kanan Da Ji sedang di perban, maka Yun Ho pun mengulurkan lengan kirinya, “Teman saling membantu…. Bukankah kau bilang bahwa kita teman? Sebenarnya aku tidak berteman dengan wanita. Kau adalah satu-satunya teman wanitaku.” Da Ji tersenyum dan menjabat tangan Yun Ho, “Kau harus ikut berpartisipasi dalam kompetisi pacuan kuda itu. Ingat saat aku bilang jika aku menang juara pertama maka aku akan memberikan hadiahnya padamu.” Yun Ho tersenyum, “Kau sepertinya akan menang. Kau telah bekerja keras.”

Yun Ho menatap ke arah pintu ruang rapat dan ternayat disitu terlihat Dong Joo sedang berdiri menatap mereka berdua. Da Ji mengikuti arah pandang Yun Ho dan terkejut menatap Dong Joo. Dong Joo menatap mereka berdua dengan tatapan tajam dan kemudian pergi meninggalkan ruang rapat.



Dong Joo masuk ke dalam lift dan kemudian Yun Ho juga masuk kedalam lift. Melihat Yun Ho berada di satu lift bersama Dong Joo maka Dong Joo memutuskan keluar dari lift terlebih dahulu, Yun Ho kemudian menghentikan langkah Dong Joo dengan ucapannya, “Aku tau hubungan diantara kita sangat aneh. Tapi di dalam pekerjaan, kau tidak boleh mencampur hubungan pribadimu dengan masalah pekerjaan.” Yun Ho keluar dari lift dan berdiri disamping Dong Joo, “Ini sudah 2 minggu sejak kedatanganku kembali. Banyak sekali masalah yang perlu di bahas bersamamu, tapi kau tidak menghadiri rapat yang aku adakan. Apakah kau punya waktu luang hari ini?” Dong Joo berkomentar, “Berbicara denganmu secara langsung membuatku tidak nyaman.”

Yun Ho tersenyum, “Han Dong Joo, harus berapa lama aku menahan sikapmu yang rewel begini?” Dong Joo menatap tajam pada Yun Ho, “Partner bisnis? Ah kau benar. Kita adalah partner bisnis. Maaf, tapi apa yang harus aku lakukan? Bersikap baik pada orang yang telah menghancurkan hubungan pribadiku… Itu bukanlah sikapku.” Dong Joo akan pergi meninggalkan Yun Ho namun lagi-lagi Yun Ho mencegahnya, “Apakah kau memperlakukanku begini karena Lee Da Ji? Aku dengar kau sudah memiliki hubungan dengan orang lain.” Dong Joo kembali menatap Yun Ho dengan tajam, “Apa yang akan kau lakukan untuk menjaga Ji Mil Hye?” Dong Joo kemudian benar-benar pergi meninggalkan YunHo.



Da Ji berada di peternakan dan dia memperlihatkan sebuah foto pada Paulist, “Bagaimana? Ini adalah foto rumah asalmu. Apakah kau merasa ingin berlari?” Paulist tetap terdiam tak bereaksi. Da Ji kemudian menampilkan foto lainnya, “Foto ini diambil saat Kakekmu memenangkan pertandingan. Bagaimana? Kau ingin berlari seperti Kakekmu kan?” Namun tetap saja Paulist tidak memberikan respon.



Dong Joo datang ke rumah dan Da Ji pun seera bertanya padanya, “Kau kemana saja? Aku sudah menghubungimu lebih dari 10 kali.” Dong Joo hanya menjawab singkat, “Aku tidak mau berbicara denganmu.” Dong Joo terus berjalan memasuki rumah dan membiarkan Da Ji yang masih kebingungan dengan sikap Dong Joo.

Da Ji masuk ke dalam kamar Dong Joo dan terkejut saat melihat Dong Joo sedang membereskan pakaiannya, “Apa yang sedang kau lakukan?” Dong Joo menjawab, “Sebelum Jin Young salah paham maka aku berfikir tidak baik jika tetap tinggal disini.” Da Ji bertanya, “Apakah Jin Young mengatakan sesuatu?” Dong Joo tidak menjawabnya dan dia justru mengatakan hal lain, “Kita harus mendapatkan surat persetujuan masyarakat dalam sebulan. Saat kau mendapatkan semua surat persetujuan masyarakat itu maka berikan pada Asisten Lee.” Saat Dong Joo akan pergi, Da Ji menahannya dan bertanya, “Apakah kau benar-benar akan pergi?” Dong Joo menjawab, “Tinggal bersamaku disini bukankah sangat lucu? Jin Young tidak menyukai fakta bahwa kita tinggal di satu rumah yang sama. Dan lagi, siapa aku hingga harus memisahkan kau dan Yun Ho. Benar bukan?”

Da Ji kemudian berkata, “Itu… Aku dan dia menjadi teman.” Dong Joo memotong ucapan Da Ji, “Dan lagi… Mulai sekarang aku tidak ingin melakukan apapun untukmu. Kita seharusnya tidak benar-benar bertemu kembali. ” Dong Joo membawa kopernya dan pergi. Namun kemudian dia menahan langkahnya, “Mungkin… Walaupun kita tidak berpisah… kita tidak akan bisa bertahan lama memiliki sebuah hubungan. Kau dan aku tidak cocok untuk bersama.” Setelah mengatakan hal itu, Dong Joo pergi begitu saja.



Jin Young sedang berjalan di area pacuan kuda dan dia mendapatkan telfon dari Ayahnya. Ayah Jin Young bertanya, “Apakah kau masih berhubungan dengan pria itu?” Jin Young menjawab, “Ya.” Ayah Jin Young kembali bertanya, “Walaupun aku melarangmu?” Jin Young kembali menjawab, “Ya.” Ayah Jin Young menghembus nafas pelan dan berkata, “Aku mengerti. Aku tutup telfonnya.” Ayah Jin Young kemudian melihat beberapa lembar foto dan ternyata foto itu adalah foto-fotonya Dong Joo.



Dong Joo sampai di resort dan dia sedang mengeluarkan kopernya dari dalam mobil. Hp Dong Joo berbunyi dan dia pun segera mengangkatnya, “Ya?” Ayah Jin Young yang menelfon pun bertanya, “Apakah ini Han Dong Joo?” Dong Joo menjawab dengan malas, “Ya.” Ayah Jin Young kembali berkata, “Aku Ayah Jin Young. Ayo berbicara bersamaku.” Dong Joo terkejut mendengarnya.

Dong Joo datang ke sebuah restaurant dan disitulah dia bertemu dengan Ayah Jin Young.




7 comments:

Dewi Cendrillon said...

lanjutin Zola, hwaiting.....

Vhiesha said...

Satu hari dah 2 episode,,,lanjut trus.....

Vhiesha said...

Satu hari dah 2 episode,,,lanjut trus.....

Miss 'U said...

ditunggu kelanjutannya mbak :D :D



*maap selama ini jadi silent reader v^^

Anonymous said...

Keren.....

Anonymous said...

Q benar2 suka ma changmin, q suka blog ni krn sinopsisnya g da d blog lain, n ni membuat beda dr yg lain, gomawo zola dah bkin sinopsisnya

Valerie said...

Gumawo zola . . . Ak tggu ke lnjutan nya

Post a Comment

Jangan jadi Silent Readers ya :-)

zoladiaries.blogspot.com
-
 

Blog Template by